PRIA YANG DISEGANI DAN DIHORMATI DALAM KELUARGA

SURAT GEMBALA

Minggu, 27 September 2020

 

PRIA YANG DISEGANI DAN DIHORMATI DALAM KELUARGA

I TIM 3:4

            Shalom, Pria yang disegani dan dihormati dalam keluarga ialah Pria yang berfungsi sebagai kepala keluarga, yang adalah suami bagi istrinya dan ayah bagi anak-anaknya. Fungsi ini mencakup tanggungjawab Ilahi yang diembannya sebagai pria yakni pemimpin, imam dan nabi seperti yang telah dibahas dalam khotbah-khotbah sepanjang bulan ini. Sebenarnya,  hal apakah yang mendasar sehingga pria yang adalah kepala keluarga disegani dan dihormati dalam keluarga. Paling tidak ada 3 hal yang sangat menenentukan :

            Pertama, Pria yang menyegani dan menghormati Tuhan (Yos 24:15). Tidak dapat dipungkiri jikalau pria menghormati Tuhan  maka seisi rumahnya  pasti menghormatinya sebagai kepala keluarga dan akan membawa seluruh keluarganya menyembah  Tuhan.

            Kedua, Pria yang menghargai dirinya sendiri (Ef 5:28-29). Menghargai diri sendiri adalah salah satu unsur terpenting bagi kesuksesan hidup. Orang akan menjaga dan melindungi dirinya sampai batas dimana dia memandang nilai pribadinya. Orang tidak akan menuangkan alkohol ke mobil mewah mereka, tapi ironisnya dengan leluasa menuangkannya ke dalam tubuh mereka yang lemah. Kita harus selalu mencintai dan menghormati diri kita, sehingga berani mengatakan tidak pada kebiasaan dan perilaku buruk yang bisa merusak diri kita sendiri.  Kuduskan diri kita agar Roh Kudus tetap tinggal di dalam diri kita. Kita berharga dimata Tuhan, sudah sepantasnya kita menghargai diri kita sendiri karenanya.

Ketiga, Pria yang menghargai anggota keluarganya (I Pet 3:7, Maz 103:13). 1). Menghargai istri (I Pet 3:7) “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang” Tidak ada setiap hubungan yang Tuhan taruhkan dalam kehidupan kita secara kebetulan. Semuanya ada dengan tujuan Tuhan, Tuhan bekerja di dalamnya, Ia memakai itu untuk membentuk dan membangun kita. Pasangan kita adalah teman pewaris dari kasih karunia, artinya tanpa pasangan kita, kita tidak bisa menerima janji-janji Tuhan. Diperlukan kesehatian roh, hati, iman, pikiran, dan lain-lain. Tuhan rindu kita bukan hanya memperhatikan diri sendiri, perasaan dan kepentingan kita, tapi mulai memperhatikan pasangan yang Tuhan berikan bagi kita, karena ketika kita memperhatikan mereka, membangun mereka, mengasihi mereka kita sedang menarik kasih karunia Tuhan turun dalam hidup kita, pernikahan dan keluarga kita. Kita perlu kasih karunia dari Tuhan untuk memulihkan, untuk mengangkat kita dan membawa kita masuk dalam rencana dan panggilan Tuhan. banyak kemustahilan yang hanya bisa dilewati dengan kasih karunia Tuhan. Setiap keadaan yang menekan, mendesak dan menjepit, hanya kasih karunia yang akan melepaskan dan meneguhkan kita. Kasih karunia akan mengerjakan semua yang diluar kemampuan dan kekuatan manusiawi. Ketika kita berserah dan mengijinkan kasih karunia mengambil alih maka semuanya bukan lagi tentang kita tapi tentang Tuhan. Tuhan rindu melakukan mujizat besar, menyatakan pertolongan, pembelaan dan pemeliharaan-Nya yang sempurna. Hari ini mari rendahkan diri, mulai kasihi pasangan kita lebih lagi, kejarlah kesatuan Roh, mulai bersepakat. Hormati isteri dan suami kita bukan hanya sebagai orang yang kita kasihi, tapi lebih dari itu sebagai anugerah terbesar Tuhan, sebagai pribadi yang Tuhan taruhkan dengan tujuan khusus dalam kehidupan kita, yang akan membawa kita mewarisi kasih karunia-Nya. Mulai lihat pasangan kita sebagai berkat, jangan sebagai beban atau masalah. 2). Menghargai anak (Maz 103:13). Seperti Bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Mengarahkan, mengajar, mendidik dan membimbing (berjalan bersama) keluarga untuk bertumbuh ke arah Kristus, Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu (Ulangan 6:6-9). Yoas melakukan apa yang benar di mata TUHAN seumur hidupnya, selama imam Yoyada mengajar dia. (2 Raja-Raja 12:2 )

Oleh : Pdt. Paulus Timang, M.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *