PENGORBANAN HANA

SURAT GEMBALA

Minggu, 16 Mei 2021

PENGORBANAN HANA

 

Tetapi madunya SELALU MENYAKITI HATINYA supaya ia gusar, karena Tuhan telah menutup kandungannya. Demikianlah terjadi DARI TAHUN KE TAHUN; SETIAP KALI HANA PERGI KERUMAH TUHAN, Penina menyakiti hati Hana sehingga ia menangis dan tidak mau makan.

I Samuel 1 : 6-7

Hana yang dalam bahasa Ibrani disebut CHANA atau HANNAH memiliki arti ELOK atau MENYENANGKAN, adalah isteri dari Elkana yang tinggal di Ramataim-Zofim. Selain Hana, Elkana memiliki seorang isteri yang bernama Penina, dimana Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak (ayat 2). Keputusan Elkana untuk berpoligami melahirkan masalah bagi keluarga itu, khususnya bagi Hana. Penderitaan Hana bukan hanya karena selalu disakiti oleh Penina madunya, melainkan sesungguhnya oleh sikap dan perlakuan  Elkana suaminya. Sebagai catatan, bila kita selidiki didalam Alkitab, setiap keputusan untuk ber-Poligami (Memiliki lebih dari satu isteri PASTI AKAN SELALU melahirkan persoalan dalam keluarga diantara isteri dan anak-anak) Abram atau Abraham yang mengambil Hagar, Yakub yang memperistri Lea dan Rahel, Raja Daud, Salomo dengan 700 isteri dan 300 gundik ( I Raja-raja 11 : 1,3). Tidak hanya itu, dalam “KEBERDOSAANNYA” Elkana membawa kedua isterinya dan anak-anak Penina “BERIBADAH” di Silo. Kesempatan itu bagi Penina digunakan bukan untuk menyembah dan meninggikan Allah, tetapi digunakan untuk melakukan kejahatan terhadap Hana dengan meninggikan diri dan merendahkan Hana ( I Samuel 1 : 6-7). Elkana tidak merasa bersalah membawa keluarga Poligaminya untuk beribadah, dan Penina justru menggunakan kesempatan ibadah itu untuk menyakiti Hana. Hal ini pasti menimbulkan penderitaan sendiri bagi Hana, mereka berada di TEMPAT KUDUS tetapi membawa dan melakukan dosa. Sejenak kita perlu memeriksa hati kita mengapa dan untuk apa seta apa yang kita lakukan dalam ibadah dirumah Tuhan. Jangan sampai kita menjadi ELKANA atau PENINA masa kini, didalam ibadah di gereja kita justru melakukan dosa dengan pikiran, perkataan dan perbuatan kita.  Apa yang dilakukan Penina terhadap Hana bukan hanya terjadi sekali, tetapi dilakukan DARI TAHUN KE TAHUN setiap kali mereka pergi kerumah Tuhan ( I Samuel 1 : 7). Tetapi justru disitulah kita melihat ke-elokan karakter dan Pengorbanan Hana. Beberapa karakter dan pengorbanan Hana yang patut untuk kita teladani, yaitu :

  1. Alkitab tidak mencatat bahwa Hana meluapkan amarahnya kepada Elkana suaminya dan kepada Penina madunya yang SELALU BERUSAHA menyakiti hatinya dan merendahkan dia
  2. Hana membawa perkaranya hanya kepada Tuhan ( I Samuel 1 : 10).
  3. Doa Hana bukan ditujukan untuk membalas sakit hatinya kepada Penina madunya yang selalu merendahkan dia karena tidak memiliki anak, tetapi doa dan nazar Hana dengan meminta seorang anak laki-laki bertujuan untuk DIPERSEMBAHKAN KEPADA TUHAN, untuk melayani Tuhan seumur hidupnya ( I Samuel 1 : 11).
  4. Hana justru mempersembahkan Samuel anak lelaki satu-satunya untuk melayani dirumah Tuhan SEUMUR HIDUPNYA.

Catatan :

Samuel anak laki-laki Hana seharusnya menjadi harapan dan MASA DEPAN Hana, tetapi dia mempersembahkannya kepada Tuhan dan menggantungkan masa depannya sepenuhnya kepada Tuhan.      

Pertanyaan :

  1. Bagaimanakah sikap kita kalau Tuhan ijinkan kita menghadapi situasi seperti yang dihadapi Hana?
  2. Kita memiliki anak lebih banyak daripada Hana, tetapi apakah kita berani mempersembahkan satu daripada mereka untuk seumur hidupnya melayani Tuhan?
  3. Bagaimana kalau anak-anakmu, mungkin anakmu yang kamu anggap terbaik suatu saat menyampaikan kepadamu kerinduan hati untuk melayani Tuhan, menjadi Hamba Tuhan? Apakah respon kita terhadap mereka? Apakah kita akan bersukur dan mendukung mereka atau kita justru bersedih hati ?
  4. Adakan diantara Bapak ibu yang saat ini berdoa supaya ada diantara anak-anakmu yang akan dipanggil menjadi Hamba Tuhan?

Selamat Hari Minggu, Selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati kita semua………!!                                                                                                 

 

Oleh. Pdt. Rustam Miling, S.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *