TANTANGAN POLITIK

SURAT GEMBALA

Minggu, 24 November 2019

TANTANGAN POLITIK.

Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan BERDOALAH untuk kota itu KEPADA TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

Yeremia 29 : 7

Ada dua pemikiran berbeda dalam gereja terhadap politik, berikut keterlibatan anggota jemaat dan pemimpin gereja didalam ranah politik. Sebagian beranggapan bahwa gereja dan warga gereja harus menghindari politik karena menganggap “POLITIK ITU KOTOR.” Sebaliknya ada juga yang berpendapat bahwa gereja harus terlibat dan menguasai politik, supaya dapat memiliki kekuasaan untuk dapat mempengaruhi kebijakan politik. Untuk dapat menentukan sikap gereja terhadap politik, seharusnya kita memahami apakah politik itu sesungguhnya. Plato dan Aristoteles mendefinisikan Politik sebagai cara atau sarana untuk mencapai masyarakat yang terbaik (sejahtera). Politik ini disebut sebagai POLITIK LUHUR. Sementara PETER MERKI ahli politik Jerman mendefinisikan Politik adalah sarana untuk merebut Kekuasaan,Kedudukan, Ketenaran dan kekayaan untuk kepentingan pribadi. Politik ini disebut sebagai POLITIK KEKUASAAN. Politik Luhur akan melahirkan NEGARAWAN, sedangkan Politik Kekuasaan akan melahirkan POLITIKUS. Negarawan dan Politikus memiliki prinsip yang berbeda. Seorang Negarawan akan mengorbankan kehidupan pribadinya untuk kesejahteraan rakyat, sedangkan seorang Politikus akan mengorbankan rakyat untuk mencapai kepentingan pribadinya. Indonesia memiliki banyak Politikus, tetapi kekurangan Negarawan.

Gereja dan Politik memiliki perbedaan dan kesamaan. Politik mengupayakan kesejahteraan manusia di Bumi, sedangkan Gereja mengupayakan Kesejahteraan di bumi dan keselamatan yang kekal melalui penebusan Kristus.Politik mengandalkan manusia, Gereja mengandalkan Tuhan. Tuhan dapat mengendalikan Politik, tetapi Politik tidak dapat mengendalikan Tuhan (Daniel 2 : 21).

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagaian besar gereja hari ini telah terkontaminasi oleh politik kekuasaan, dan menggantungkan harapan dan masa depan gereja kepada pemimpin-pemimpin Politik dunia, bukan kepada Tuhan. Pemilihan para Pemimpin gereja juga telah mengikuti cara-cara politik dunia. Sejarah gereja memiliki pengalaman yang kelam sehubungan dengan terseretnya gereja kedalam politik. Perang Salib (1096-1099) dipicu oleh ambisi dan balas dendam Kaisar ALEXIS COMMENIUS yang melalui Paus Urbanus II menyatukan gereja dan orang Kristen untuk berperang melawan Dynasti Ummayah dari Turki. Orang Kristen melalui gereja Katolik berambisi untuk menguasai seluruh Eropah. Orang Kristen yang ikut mengangkat senjata akan diampuni segala dosanya. Selanjutnya tahun 312M, Kaisar Roma CONSTANTINE masuk agama Kristen. Agama Kristen dijadikan agama Negara. Penganiayaan terhadap orang Kristen berhenti. Kehidupan para pemimpin gereja sangat makmur. Kuil-kuil diubah menjdi Katedral.Tetapi gereja sangat bergantung kepada Kaisar, dan pada tahun 325 M ia mengumpulkan 220 uskup di NICEA serta mengeluarkan SK untuk melantik Yesus menjadi Tuhan (TRUE LORD).Hal itu dilakuakan untuk mengatasi perbedaan Teologi kelompok Athanasius dan Arius atau Kaum Arianisme yang meragukan ke-Tuhanan Yesus. Pembangunan jasmani gereja meningkat, tetapi wibawa rohani gereja rusak.

Sebagai warga Negara dan warga gereja kita harus memahami dan menggunakan hak-hak politik. Para pemimpin gereja bertugas MEMPERLENGKAPI siapapun anggota gereja yang akan masuk dunia politik dengan firman Tuhan agar dapat menjadi garam dan terang disana. Berdoa untuk pemeritah kepada Tuhan (Yeremia 29 : 7).

Selamat hari Minggu, selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *