Surat Gembala: Gereja yang Dewasa Menerima Setiap Peran Bagiannya

Gereja yang Dewasa: Menerima Setiap Peran Bagiannya

1 Korintus 12:1-11

Ketika berbicara tentang peran, hal yang paling dekat dengan kata ini adalah dunia perfilman. Setiap kisah yang ditulis dalam skenario akan menyampaikan pesannya dengan sangat baik ketika para lakon memperagakannya sesuai dengan bagian yang diminta masing-masing. Tidak semua orang menjadi pemeran utama; ada yang menjadi figuran, ada pula yang bertugas sebagai stuntman (peran pengganti). Dalam hal ini, dibutuhkan keahlian khusus dari tiap-tiap pemeran.

Sebuah film luar biasa tidak hanya dibangun oleh aktor dan aktris di depan layar, melainkan melibatkan begitu banyak kru di belakang layar—produser, kameramen, tim lighting , sutradara, hingga para asisten. Meski wajah mereka tidak pernah muncul di layar utama, nama-nama mereka tetap tercatat sebagai bagian penting yang menentukan keberhasilan film tersebut.

Demikian pulalah gereja Tuhan. Gereja yang dewasa adalah yang menyadari bahwa setiap anggotanya memiliki peran gereja yang dirancang oleh Sang Sutradara Agung, yaitu Allah sendiri.

Melalui 1 Korintus 12:1-11, Rasul Paulus membimbing jemaat Korintus—yang pada saat itu mengalami krisis kedewasaan karena saling menilai karunia—untuk memahami tiga kebenaran utama mengenai peran dalam jemaat:

• Dasar Pelayanan: Pengakuan akan Kristus (Ayat 1-3)Paulus memulai dengan mengingatkan bahwa sebelum mengenal Kristus, jemaat Korintus ditarik ke berhala-berhala bisu. Karunia apa pun yang dimiliki seseorang harus bermuara pada pengagungan nama Yesus, bukan penonjolan diri.
• Keberagaman Karunia dari Satu Sumber (Ayat 4-6)Paulus menggunakan tiga kata kunci:
o Rupa-rupa karunia , tetapi satu Roh .
o Rupa-rupa pelayanan , tapi satu Tuhan .
o Rupa-rupa perbuatan ajaib , tetapi satu Allah yang melakukan semuanya

           dalam semua orang.

• Tujuan Karunia: Kepentingan Bersama (Ayat 7)“Tetapi kepada tiap-tiap orang dianugerahkan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.” Karunia rohani bukanlah penghargaan pribadi ( piala ) untuk dibanggakan, melainkan alat untuk melayani orang lain.
• Kedaulatan Roh dalam Pembagian Peran (Ayat 8-11)Paulus merawat rupa-rupa karunia—mulai dari kata hikmat, pengetahuan, iman, karunia menyembuhkan, kuasa mukjizat, bernubuat, membedakan berbagai macam roh, hingga bahasa roh dan penafsirannya. Di akhir perincian tersebut, Paulus menekankan pada ayat 11: “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.”

Aplikasi & Kesimpulan

Gereja yang dewasa tercermin ketika setiap jemaat mau melangkah keluar dari sikap egois dan bersedia mengambil bagian dalam pelayanan sesuai dengan porsinya masing-masing.

• Hentikan Membandingkan Peran
• Setia pada Bagian Masing-Masing
• Fokus pada Pekerjaan Roh

Ketika setiap anggota jemaat menerima dan mengadakan persekutuan dengan setia, maka gereja akan tampil sebagai kesaksian yang indah bagi dunia—menyampaikan kisah kasih dan karya keselamatan Kristus secara utuh.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *