PENGORBANAN SAMUEL

SURAT GEMBALA

Minggu, 11 JULI 2021

 

PENGORBANAN SAMUEL

 

Adapun Samuel menjadi pelayan dihadapan Tuhan; IA MASIH ANAK-ANAK, yang tubuhnya berlilitkan baju efod dari kain lenan. Setiap tahun ibunya membuatkan dia jubah kecil dan membawa jubah itu kepadanya, apabila ia bersama-sama suaminya pergi mempersembahkan korban sembelihan tahunan.

I Samuel 2 : 18-19.

Diperkirakan dalam usia 4 atau 5 tahun (Setelah disapih) Samuel diserahkan oleh Hana ibunya dan Elkana ayahnya untuk melayani Tuhan di Kemah Pertemuan atau Kemah Suci atau Tabernakel di Silo, untuk melayani Tuhan disana SEUMUR HIDUPNYA (I Samuel 1 : 24-28). Samuel MENGORANKAN masa kecil dan masa kanak-kanaknya, baik untuk bermain dan bergaul sebagai anak-anak dan juga MENGORBANKAN waktu untuk hidup bersama kedua orang tuanya. Artinya, Elkana dan Hana harus memutuskan Samuel anak mereka untuk tidak DIPELIHARA DAN BERGAUL dengan mereka sebagai orang tua, untuk selanjutnya menyerahkan Samuel untuk DIPELIHARA, BERGAUL DAN MELAYANI TUHAN di Kemah Suci. Pastilah penting bagi seorang anak untuk dipelihara dan dirawat oleh orang tuanya, tetapi jauh lebih penting bagi seorang anak untuk dipelihara, dirawat dan melayani Tuhan. Ini pentig karena sering kita sebagai orang tua merasa lebih sanggup merawat dan memelihara anak kita, sehingga kita leih senang anak-anak kita mengikuti keinginan kita dari pada mengikuti kehendak Tuhan. Kita mengangkat diri kita seagai ORANG YANG PALING BERHAK mengijinkan atau melarang anak-anak kita untuk mengikuti panggilan Tuhan. Elkana dan Hana melihat Tuhan seagai YANG PALING BERHAK DAN BERKUASA atas hidup Samuel anak mereka. Coba kita secara jujur memeriksa hati kita, bagaimana sikap hati kita dihadapan Tuhan! Apa respon kita saat ANAK TERBAIK kita memberitahu kita bahwa dia ingin mengabdikan sepenuh hidupnya untuk melayani Tuhan sebagai Pendeta atau Penginjil. Apakah anda akan bersyukur serta mendukung dia, atau sebaliknya anda akan kecewa dan menghalangi dia?

Pengorbana Samuel kecil tidak hanya berakhir di situ, akan tetapi Samuel harus berhadapan dengan kenyataan hidup dalam lingkungan “ ROHANI” dengan moralitas rohani yang jahat. Meskipun tinggal di Kemah suci, tetapi Samuel setiap hari harus melihat dan bahkan mengalami kejahatan moral kedua anak Imam Eli Hofni dan Pinehas ( I Samuel 2 : 11-17). Secara moral dan rohani pastilah Samuel MERASA TERANIAYA. Sebagai anak kecil yang tinggal dan melayani bersama keluarga Imam Eli, adalah suatu KEHARUSAN bagi Samuel untuk mengikuti kehendak mereka dan mengikuti apa yang menjadi kebiasaan mereka. Tetapi Alkitab mencatat bahwa Samuel, walaupun masih kecil tetapi tetap memelihara hidup yang benar dihadapan Tuhan dan manusia. I Samuel 2 : 26 : Tetapi Samuel yang muda itu SEMAKIN DISUKAI, baik dihadapan Tuhan maupun dihadapan manusia.

Artinya, walaupun berada didalam lingkungan yang jahat, tidak berarti menjadi alasan bagi Samuel kecil untuk menjadi jahat. Lingkungan pasti berpengaruh, tetapi KEPRIBADIAN Samuel lah yang menentukan.

Melalui kehidupan Samuel, seharusnya kita belajar :

  1. Anak-anak kita dari sejak kecil dapat dipakai Tuhan dan melayani Tuhan.
  2. Seharusnya kita siap menyerahkan anak-anak kita kepada Allah untuk mengikuti panggilan dan kehendak Allah daripada mengikuti kehendak manusia kita sebagai orang tua.
  3. Kita dapat merawat dan memelihara anak-anak kita, tetapi Tuhan PASTI LEBIH SANGGUP untuk memelihara anak-anak kita. Apa yang ada di pikiran kita kalau anak-anak kita mau menggunakan SEPENUH HIDUPNYA untuk menjadi Hamba Tuhan?
  4. Lengkapi anak-anak kita dengan Kepribadian dan Kerohanian yang benar sehingga dia dapat mempengaruhi lingkungan, bukan sebaliknya dipengaruhi oleh lingkungan yang jahat.

 

Selamat Hari Minggu, Selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati kita semua………!!

 

Oleh. Pdt. Rustam Miling, S.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *