PENDERITAAN ORANG KRISTEN DIAKHIR ZAMAN

SURAT GEMBALA

Minggu, 21 NOPEMBER 2021

 

PENDERITAAN ORANG KRISTEN DIAKHIR ZAMAN

(MATIUS 24:9-14)

          Shalom, Tuhan Yesus secara tegas dan lugas menyatakan suatu kebenaran bahwa pada akhir zaman orang-orang percaya akan mengalami penderitaan dan masa-masa yang sukar (Bdg II Tim 3:1). Menurut Perkataan Tuhan Yesus yang diilhamkan kepada Matius paling tidak ada dua jenis penderitaan :

Pertama, Penderitaan Fisik (9). Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku (Mat 24:9) Penyiksaan atau kesengsaraan (thlipsin: kesukaran, kesengsaraan, siksaan dan kesusahan). Kata ini untuk melukiskan suatu malapetaka besar yang akan terjadi. Hanya dalam Mat.24:21,29; Mar.13:19,24; Why. 7:14 dipakai 5 kali istilah ini. Dalam bahasa Inggris disamakan dengan kata tribulation diambil dari bahasa Latin tribulum. Istilah ini menarik karena banyak pandangan eskatologi yang menyatakan adanya kesengsaraan besar sebelum Kedatangan Yesus  kedua kali. Yesus menyatakan akan adanya penderitaan melalui siksaan, dibunuh dan dibenci karena Ia pun telah mengalaminya semasa hidup-Nya. Penderitaan yang dialami Yesus di dunia ini boleh dikatakan sebagai penderitaan yang paling besar. Tetapi Alkitab memberitakan kepada kita: “Ia yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia” (Ibr. 12:2). Rasul Paulus juga adalah orang Kristen yang mengalami berbagai penderitaan, tetapi ia beroleh penghiburan dalam Kristus, bahkan ia menganggap biasa segala penderitaan yang dialaminya. Semua orang yang percaya kepada Kristus dapat mengalami penderitaan selama di dunia karena ketaatan kita kepada-Nya dan bagian dari iman Kristen.

Kedua, Penderitaan Batin (11-12). Dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin (Mat 24:10-12). Murtad (skandalízō: menjatuhkan orang ke dalam dosa, kemurtadan atau keraguan; menyinggung perasaan, tersandung). Kata skandalízō dapat diartikan pula terpikat dosa, murtad (menolak imannya), kecewa, tergoncang imannya, perasaan tersinggung. Tersandung merupakan idiom yang sama yang digunakan pada Mat. 5:29. Namun disini ahli-ahli Alkitab sepakat bahwa artinya kehilangan imannya (kepada-Ku) atau tidak memercayai (Aku) lagi. Tersinggung atau menjadi disakiti perasaannya (akan dimurtadkan) adalah kata kerja future indikatif pasif, sedangkan pada ayat yang sama kalimat lain dalam bentuk aktif. Penggunaan kata penghubung dan terdapat tiga kali dengan maksud secara konteks penekanannya sama yaitu menunjukkan sikap hati orang yang sesat akibat penganiayaan (24:9). Apabila kita memiliki sikap menyinggung, mengkhianati dan membenci (ayat 10) maka kita akan menjadi penyesat seperti nabi palsu itu karena kita telah menjadi umpan Iblis dan kita tidak hidup dalam kebenaran-Nya. Alkitab dengan jelas menyatakan hal tersebut sebagai penyesatan (bdg. Lukas 17:2). Kasih yang menjadi dingin menunjukkan terjadinya kemurtadan di dalam hati orang. Kemurtadan di hati adalah bentuk kedurhakaan yang terjadi dimulai dari hati manusia dan meluap melalui perbuatan. Kemurtadan di hati itu adalah seorang Kristen yang meninggalkan kasihnya yang mula-mula dan mencari kesenangan duniawi dan suatu formalitas penampilan luar dalam praktek-praktek agamawi. Yesus mengajarkan bahwa kita dapat pulih dan mendapatkan kasih kita yang semula dengan cara bertobat dan melakukan lagi apa yang semula telah dilakukan dalam pengabdian dengan Tuhan (Why. 2:5).

Ayat 13 menyatakan Tujuan Allah mengizinkan penderitaan terjadi dalam kehidupan orang percaya agar orang percaya diselamatkan. Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. (Mar. 13:13b;Luk.21:19) Yesus ingin mempersiapkan pengikut-pengikut-Nya menghadapi masa-masa yang sangat sulit supaya mereka sabar dan iman mereka kepada-Nya tetap bertahan. Segera sesudah Ia bangkit dari kematian dan kembali ke surga, pemimpin-pemimpin Yahudi mulai menganiaya pengikut-pengikut-Nya. Pada tahun 64 M sebagian besar kota Roma (ibukota Kekaisaran Romawi) musnah terbakar. Untuk mengalihkan kesalahan dari dirinya, Kaisar Nero menuduh orang-orang Kristen yang membakar kota itu dan mulai menyiksa dan membunuh ribuan orang Kristen. Selama berabad-abad orang Kristen banyak mengalami penganiayaan. Perkataan dan teladan Yesus menguatkan kita bahwa semua ini merupakan bagian dari rencana Allah (Luk. 21:18). Satu-satunya sikap yang layak bagi umat Kristen adalah kesabaran dan tidak menyerah sampai akhir. Frase tersebut memberikan syarat apabila sikap kita lebih sabar menghadapi penganiayaan sampai akhir hidup kita atau sampai akhir penderitaan maka kita memasuki permulaan yang baru dan jaminan keselamatan yang kekal.

.

Selamat hari Minggu, Selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati…..!!

 

Oleh. Pdt. Paulus Timang, M.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *