MEMILIKI KUASA UNTUK BERKORBAN

SURAT GEMBALA

MINGGU, 29 MARET 2020

MEMILIKI KUASA UNTUK BERKORBAN

(LUKAS 1O:25-37)

Syalom Jemaat yang dikasihi Tuhan, apa kabar? Pasti Luar biasa! dalam ibadah perdana secara online minggu ini sebagai wujud dan partisipasi gereja mencegah virus corona/covid 19 adalah bukti pengorbanan (penyangkalan diri) Jemaat Tuhan yang biasanya bersekutu dalam jumlah massa yang besar. Peristiwa ini juga telah terjadi ribuan tahun yang lalu dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37). Dari tema minggu ini, ada dua kata yang sangat menarik; Kuasa: kekuatan, kemampuan, otoritas. Sedangkan berkorban: rela melepaskan segala sesuatu untuk orang lain. Rela menderita, mau rugi dan kehilangan apa yang kita miliki demi kepentingan orang lain.

Nast ini dilatar belakangi oleh pertanyaan Ahli Taurat tentang hidup yang kekal (4) yang dinodai oleh motivasi untuk mencobai Yesus. Jawaban Tuhan Yesus dengan Pertanyaan; Apa yang engkau pelajari (tertulis dan baca di Hukum Taurat) di sana (26). Jawaban Ahli Taurat: ayat 27 dan Tuhan Yesus mengkonfirmasi bahwa jawaban benar (28a) dan Perbuatlah demikian maka kamu akan hidup (28b) Kemudian Ahli Taurat  yang tidak benar ini membenarkan dirinya dengan perkataan: siapakah sesamaku manusia? (29)—maksudnya tidak ada obyek dengan kata lain tidak ada orang yang mau ditolong. Karna Ahli Taurat tidak memahami maksud Tuhan Yesus. Maka Tuhan Yesus menjawab dengan Perumpamaan. Di dalam perumpamaan ini, digambarkan ada lima orang (para perampok tidak termasuk di dalamnya). Berturut-turut mereka adalah: orang yang dirampok dan terluka; imam; orang Lewi; orang Samaria; dan pemilik penginapan. Paling tidak ada 3 bukti pribadi yang memiliki kuasa untuk berkorban;

Pertama, Menolong dan menghargai orang yang lemah (30-33). IMAM: Membawa dan menyampaikan pergumulan umat kepada Tuhan (31). LEWI: Pelayan Bait Allah (32). ORANG SAMARIA: Digerakkan oleh belas kasihan (33) intinya peka dan rela menolong. . Tetapi musafir ini, yang dikenal melalui pakaian, perkataan, dan sikapnya sebagai seorang Samaria, menghentikan keledainya, membungkuk dengan ramah, dan membantu sesamanya. Dia tidak bertanya apakah korban yang terluka itu orang Yahudi, Romawi, Yunani, atau Siria. Baginya, orang yang telanjang, terluka, dan setengah mati itu adalah saudara yang membutuhkan pertolongan. Dia siap membayar uang yang diperlukan oleh pemilik penginapan untuk merawat orang tersebut di penginapan selama beberapa hari. Orang Samaria ini pasti memberi pakaian juga. Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN 1 , yang akan membalas perbuatannya x itu. Orang yang berbelas kasihan kepada orang miskin memberi pinjaman kepada TUHAN, dan Dia akan membalasnya atas perbuatannya itu (Amsal 19:17)

Kedua, Menanggung beban dengan sukacita (34). Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Minyak dan anggur: perayaan/sukacita. Melakukan dengan sukacita..menolong tanpa kalkulatif. Orang Samaria seperti yang telah digambarkan menemukan tempat yang hangat di hati setiap orang. Dia menjadi orang yang paling disukai di dalam kisah ini. Dia tahu apa yang dia lakukan dan dia melakukannya dengan baik. Perbedaan-perbedaan suku, agama, dan derajat tidak penting baginya. Dia melihat sesamanya yang membutuhkan pertolongan dan dia membantunya. Sebenarnya, orang-orang Samaria  bukanlah orang yang paling penuh kasih. Kebencian mereka terhadap orang-orang Yahudi telah meletus dalam banyak cara. Misalnya, kira-kira antara tahun 9 dan 6 SM mereka menajiskan wilayah Bait Allah untuk mencegah orang-orang Yahudi merayakan Paskah. Mereka melakukan ini dengan menyebarkan tulang-tulang manusia di halaman Bait Allah. Di mata orang Yahudi, orang Samaria adalah orang peranakan. Mereka telah menempati tanah Israel selama orang-orang Yahudi dibuang dan Alkitab mereka hanya terdiri dari lima kitab Musa. Mereka membangun Bait Suci sendiri di atas Gunung Gerizim (Yah 4:20); orang-orang Yahudi menghancurkannya tahun 128 SM. Karena kebencian yang dalam, orang-orang Yahudi tidak berhubungan dengan orang-orang Samaria.

Ketiga, Memberi dengan tulus hati (35). Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.(35). Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya , ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan(Amsal 11:24) . Orang Samaria tersebut tidak melakukan perbuatan kasih dan kemurahan atas dasar timbal balik. Dia dapat saja meminta pasien ini membayar kembali jumlah uang yang telah dia keluarkan untuknya setelah dia sembuh. Dia bahkan tidak tahu apakah pasien ini akan mengungkapkan terima kasihnya sesudah dia melihat siapa yang merawat dia. Perbuatan orang Samaria ini menggambarkan pengorbanan yang tulus dalam hal uang, harta milik, resiko kesehatan dan keamanan, dan banyak waktu untuk menunjukkan kasih dan perhatian yang sungguh-sungguh. Dia memenuhi Hukum Emas.

Oleh : Pdt. Paulus Timang, M.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *