MEMBERITAKAN INJIL SEBAGAI BUKTI KEDEWASAAN ROHANI

MENURUT ROMA 10:1

 

Dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, khususnya Roma 10:1, Paulus menyatakan suatu kerinduan yang sangat mendalam untuk keselamatan sesama,  Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan(TB).  Ayat ini bukan hanya menunjukkan kepedulian seorang rasul, tetapi juga menjadi cerminan ciri utama kedewasaan rohani dalam memberitakan Injil. Kedewasaan rohani bukan sekadar pengetahuan teologis atau pengalaman ibadah yang rutin, melainkan sebuah kondisi hati yang menuntun seseorang untuk aktif dan rela memberitakan Injil kepada orang lain. Paling tidak ada dua ciri pribadi yang dewasa secara rohani dalam memberitakan Injil menurut Roma 10:1:

 

Pertama, Kerinduan Mendalam untuk Keselamatan Orang Lain

Ciri pertama yang sangat menonjol dalam pribadi dewasa rohani adalah kerinduan yang mendalam agar orang lain diselamatkan. Ini bukan sekadar keinginan biasa, melainkan sebuah panggilan hati yang terus membara. Seorang yang dewasa rohani menyadari pentingnya keselamatan kekal bagi setiap manusia dan merasa terpanggil untuk berbagi kabar baik Injil. Kerinduan ini tidak mudah padam meskipun menghadapi berbagai hambatan atau penolakan.

 

Kerinduan tersebut juga mencerminkan kasih Kristus yang mengasihi semua orang tanpa terkecuali. Dalam konteks Roma 10:1, Paulus menunjukkan bahwa orang yang dewasa secara rohani tidak hanya fokus pada keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga berjuang dengan doa dan tindakan nyata untuk keselamatan sesama. Kerinduan ini menjadi motivasi utama dalam memberitakan Injil, bukan karena paksaan atau kewajiban semata, tetapi karena cinta kasih yang tulus kepada sesama.

 

Kedua, Memberitakan Injil dengan Kerelaan Hati

Ciri kedua yang tidak kalah penting adalah memberitakan Injil dengan kerelaan hati. Memberitakan Injil bukan tugas yang mudah; seringkali dihadapkan pada tantangan, penolakan, bahkan risiko pribadi. Namun, pribadi dewasa rohani melakukannya dengan sukacita dan tanpa paksaan. Kerelaan hati ini menunjukkan kedewasaan iman yang sejati, di mana seseorang tidak mencari pujian manusia, melainkan hanya ingin memuliakan Allah melalui pemberitaan Injil.

 

Kerelaan hati juga menandakan kesiapan untuk melayani tanpa pamrih, mengutamakan kebutuhan rohani orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Dalam pelayanan penginjilan, kerelaan hati ini sangat penting agar pesan Injil dapat disampaikan secara tulus dan efektif. Orang yang dewasa rohani memahami bahwa memberitakan Injil adalah bagian dari panggilan hidupnya sebagai murid Kristus, sehingga ia melakukannya dengan sepenuh hati dan penuh komitmen. Jadi, Pemberitaan Injil dengan kerelaan hati adalah tindakan yang didorong oleh kasih(I Kor 9:18, 2 Kor 4:1-2), sukacita(Kisah Para Rasul 5:40-42), dan ketaatan kepada perintah Allah (2 Kor 9:7, Mark 16:15), bukan karena paksaan atau kewajiban.

 

Kesimpulan:

Kedewasaan Rohani Terlihat dari Sikap dan Perbuatan dalam Memberitakan Injil. Menurut perspektif Roma 10:1 paling tidak Dua ciri utama pribadi dewasa rohani dalam konteks ini adalah:

 

  1. *Kerinduan yang mendalam untuk keselamatan orang lain*, yang mendorong doa dan usaha sungguh-sungguh agar mereka dapat mengenal Kristus.
  2. *Memberitakan Injil dengan kerelaan hati*, yang menunjukkan kesiapan dan sukacita dalam melayani serta mengabarkan kabar baik tanpa paksaan.

 

Selamat Hari Minggu, Selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati……Shalom…….!!!

 

Oleh : Ev. Geo Frayanus, M.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *