MELAKSANAKAN KEHENDAK TUHAN

SURAT GEMBALA

Minggu, 31 Januari 2021

 

MELAKSANAKAN KEHENDAK TUHAN

MATIUS 6 : 25-34

 

Melaksanakan kehendak Tuhan adalah tujuan Allah menciptakan kita.. Allah menciptakan kita dengan “kehendak bebas” agar kita melaksanakan kehendak-Nya dengan kemurnian kasih namun kecendrungan manusia menyalahgunakan kehendak bebas dengan berbuat dosa. “kehendak Allah” adalah “hidup berkenan dihadapan Allah”. salah satu kehendak Allah agar berkenan kepada-Nya ialah dengan kehidupan yang tidak dipenuhi dengan kekuatiran (Mat  6:25-34). Kuatir : takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti (KBBI). Kekuatiran adalah perasaan gelisah, perasaan takut, atau kegentaran, kengerian terhadap segala sesuatu yang belum terjadi. Tidak seorangpun yang mau kuatir atau merencanakan kuatir dalam hidupnya. Tetapi kuatir biasanya datang tiba-tiba dalam kehidupan. Asal mula kekuatiran bukanlah dari luar, melainkan dari dalam. Kekuatiran tidak berkaitan dengan pekerjaan, jadwal, komitmen kita, atau orang lain. Kekuatiran berkaitan dengan cara kita dalam menanggapi tekanan dari luar yang dapat menimbulkan kecemasan. Jika kita menganalisanya dengan cermat, kita akan tahu bahwa kekuatiran merupakan masalah dari dalam. Untuk itulah dibutuhkan tanggung jawab kita untuk mengendalikannya. Mengapa kita melakukan kehendak Allah dengan kehidupan yang berkemenangan atas kekuatiran dengan kata lain mengapa kita tidak perlu kuatir menurut Matius 6:25-34.

Pertama, Hidup dan tubuh lebih penting dari kebutuhan pokok (25-26). Kata “hidup” dalam teks ini adalah psuke (ψυχῇ), yang artinya jiwa. Dalam jiwa ada pikiran, perasaan, dan kehendak. Tuhan hendak menunjukkan bahwa pemeliharan pikiran, perasaan dan kehendak yaitu manusia batiniah lebih penting dari makanan jasmani untuk pertumbuhan fisik (nourishment; Yun. trophes τροφῆς).  Dengan pernyataan ini Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja. Maksud Tuhan Yesus dengan pernyataan-Nya tersebut adalah jangan karena makanan jasmani (roti), seseorang mengabaikan pemeliharaan manusia batiniah yang lebih penting, sebab membawa dampak abadi. Kata “tubuh” di sini adalah soma (σῶμα) dan “pakaian” dalam teks aslinya adalah endumatos (ἐνδύματος) yang artinya jubah luar (outer robe). Dalam hal ini Tuhan mengingatkan kepada manusia yang tidak menggunakan tubuhnya dengan benar. Yang lebih mendandani dirinya dengan jubah luar yang megah dalam pemandangan mata manusia, tetapi tidak menggunakan tubuhnya untuk kemuliaan Allah.

Kedua, Kekuatiran tidak dapat menambah usia (27). Intinya dalam bagian ini ditegaskan bahwa kekuatiran itu tidak berguna. Walaupun makanan penting buat pertumbuhan tetapi sesungguhnya Allah lah yang mengendalikan pertumbuhan. Naskah asli “dengan kekuatiran, kamu tidak dapat menambah satu hasta dalam ketinggian badanmu”. Para ahli sepakat “Pekhun hena” (1 hasta) dan  “ten helikian” (tinggi badan= umur). Kekuatiran tidak dapat menyelesaikan masalah esok hari justru merusak kebahagiaan hari ini.

Ketiga, Kuatir adalah tanda pribadi yang tidak percaya (28-30). Kurang percaya dari dasar kata “Oligopistoi”: hai yang beriman kecil. Ay 30: kuatir menunjukkan kurang / tidak percaya, dan ini adalah dosa (bdk. Mat 8:26  14:31  16:8). Frasa “hai orang yang kurang percaya” dalam ayat 30, ungkapan ini dipergunakan 4 kali dalam Injil Matius, satu kali dalam Injil Lukas, sebagai dorongan pertumbuhan maupun tegoran : Jangan menjadi orang yang kurang percaya! Jangan menjadi kuatir dan gelisah!

Keempat, Bapa Sorgawi tahu kebutuhan kita (31-34). Bukti Bapa Sorgawi tahu kebutuhan kita disampaikan dengan contoh; “pandanglah burung-burung dilangi (26)…perhatikanlah bunga bakung di ladang”(28).  Ay 34: kuatir akan hari esok menyebabkan kita memikul beban yang terlalu berat, karena Tuhan hanya memberi kekuatan untuk beban hari ini.

Selamat hari Minggu, Selamat beribadah, tuhan Yesus memberkati……!!

 

Oleh : Pdt. Paulus Timang, M.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published.