KASIH YANG MENGAMPUNI

SURAT GEMBALA

Minggu, 06 FEBRUARI 2022

 

KASIH YANG MENGAMPUNI

(MATIUS 6:12,14-15)

“dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;…..Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”

Shalom, Apa kabar Jemaat Tuhan? Puji Tuhan! kita semua diizinkan Tuhan memasuki minggu pertama di bulan kedua ditahun yang baru ini. Tema khotbah sepanjang bulan ini ialah Orang Kristen dewasa dalam Kasih sedangkan dalam minggu ini kita akan belajar bersama dalam tema: “Kasih yang mengampuni menurut Matius 6:12,14-15”. Kata mengampuni (Gerika:“aphiemi“) artinya meninggalkan, melepaskan, membuangnya, atau memutuskan hubungan seperti seorang suami menceraikan istrinya. Namun “aphiemi” bisa juga berarti membebaskan hutang, atau menyerah, tidak menyimpannya lagi.  Kata “kesalahan” dalam ayat 12 adalah “opheilema” (ofeilhma) yang berasal dari kata dasar “opheilo” (ofeilw) yang berarti hutang, atau berhutang, dan pada masa Yesus biasa digunakan untuk merujuk pada kata dosa.  Orang yang mengasihi pasti mengampuni. Mengampuni adalah salah satu aspek dari Kasih (I Yoh 4:7-12, 19-21) Jikalau seorang berkata: ”Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya (I Yohanes 4:20). Inilah kasih Tuhan bagimu, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8). Paling tidak ada dua kepentingan memiliki Kasih yang mengampuni menurut Matius  6:12, 14-16 :

Pertama, Tanda pribadi yang telah mengalami Pengampunan (14-15). Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu”. Pribadi yang telah diampuni pasti membuang sampah-segala sesuatu yang merusak hati. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah “hendaklah dibuang” dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang  terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Ef 4:31-32). Kemudian menguasai diri dalam segala hal. Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan  kepada Iblis (Ef 4:26-27). Dengan kata lain pribadi yang menguasai diri; Tidak mengizinkan rasa sakit hati, terluka, kepahitan, putus asa masuk dalam kehidupannya. Pribadi yang terjebak dengan situasi di atas akan nampak dalam kehidupannya yang sinis, tidak nyaman, menghindar dari perkumpulan/komunitas dan gampang menghakimi dosa orang lain (Yoh 8:1-11).

Kedua, Tanda Pribadi yang telah mengampuni (12). dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Pengampunan tidak segampang membalikan telapak tangan. Pengampunan dapat dipraktekkan apabila telah mengalami pengampunan dari Tuhan. Praktek Pengampunan sangat jelas dalam ilustrasi yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Matius 18:21-35, saat Petrus bertanya berapa kali dia harus mengampuni saudaranya jika ia berbuat dosa kepadanya.  Hamba yang jahat yang sudah berhutang kepada raja 10.000 talenta ( 1 talenta = 6000 dinar, jadi totalnya 60 juta dinar), namun tidak mau mengampuni temannya yang cuma berhutang 100 dinar, pada akhirnya dijatuhi hukuman hingga ia melunasi hutangnya. Pada akhir kisah yang diceritakan-Nya, Yesus merangkumnya dengan berkata, “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Matius 18:35). Kesimpulannya: tidak mengampuni tidak akan diampuni.

 

Oleh : Pdt. Paulus Timang, M.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published.