Dewasa Dalam Memahami Arti “Berdoa”
(Matius 6:5–6)
Shalom, Jemaat yang dikasihi dalam Tuhan,
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Bapa yang setia memelihara kehidupan jemaat-Nya. Dalam perenungan Firman Tuhan beberapa waktu ini, tim penggembalaan merasakan dorongan yang kuat untuk mengajak kita semua bertumbuh dalam satu aspek mendasar kehidupan rohani: kedewasaan dalam memahami arti berdoa. Tuhan Yesus berkata dalam Injil Matius 6:5–6:
“Apabila kamu berdoa, janganlah kamu seperti orang munafik… masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi…”Perkataan ini disampaikan dalam konteks Khotbah di Bukit. Yesus tidak menolak doa di tempat umum, tetapi Ia menegur motivasi yang salah. Pada masa itu, sebagian orang berdoa untuk dilihat dan dipuji manusia. Mereka menjadikan doa sebagai panggung kesalehan.Yesus menyebut mereka “munafik,” yang dalam bahasa Yunani berarti aktor panggung. Ini menunjukkan bahwa doa bisa berubah menjadi sandiwara rohani jika hati tidak murni. Paling tidak ada 5 arti berdoa yang dapat kita pahami:
Pertama, Doa adalah Perjumpaan, Bukan Pertunjukan(5)
Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa doa bukanlah sarana pencitraan iman, melainkan perjumpaan pribadi dengan Allah. 1 Samuel 16:7 menegaskan bahwa manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati. Amsal 15:8 juga berkata bahwa doa orang jujur dikenan oleh Tuhan. Teolog Anglikan John Stott dalam bukunya The Message of the Sermon on the Mount menekankan bahwa inti pengajaran Yesus adalah keaslian hidup di hadapan Allah. Demikian pula ahli Perjanjian Baru D. A. Carson menjelaskan bahwa Yesus tidak mengecam doa publik, melainkan motivasi yang haus pujian. Kedewasaan dalam doa dimulai dari kemurnian motivasi. Tuhan tidak terkesan pada panjangnya doa atau indahnya susunan kata, tetapi pada ketulusan hati.
Kedua, Doa sebagai Relasi yang Intim dengan Bapa(6)
Yesus berkata, “Masuklah ke dalam kamarmu.” Gambaran ini berbicara tentang keintiman. Doa bukan sekadar aktivitas rohani, tetapi relasi anak dengan Bapa.
Roma 8:15 menyatakan bahwa kita telah menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah, sehingga kita berseru, “Abba, ya Bapa!”. Yeremia 29:13 mengingatkan bahwa kita akan menemukan Tuhan ketika mencari Dia dengan segenap hati. Reformator Martin Luther menggambarkan doa sebagai percakapan anak dengan Bapa yang penuh kasih. Penulis rohani E. M. Bounds dalam Power Through Prayer menyebut doa sebagai nafas kehidupan rohani.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, gereja yang dewasa bukan hanya aktif dalam kegiatan, tetapi hidup dalam keintiman dengan Tuhan. Kedewasaan doa terlihat dari kehidupan doa pribadi yang konsisten, bukan hanya doa bersama di kebaktian.
Ketiga, Doa sebagai Tanda Ketergantungan(7)
Orang yang dewasa dalam doa menyadari keterbatasannya. Ia tahu bahwa tanpa Tuhan ia tidak dapat berbuat apa-apa, sebagaimana tertulis dalam Yohanes 15:5.
Filipi 4:6 mengajarkan agar kita menyatakan segala keinginan kita kepada Allah dalam doa dan ucapan syukur. Teolog Reformed John Calvin dalam Institutes of the Christian Religion menyebut doa sebagai latihan utama iman. Sementara itu, Andrew Murray dalam With Christ in the School of Prayer menegaskan bahwa doa adalah pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya sumber kekuatan sejati. Doa bukan tanda kelemahan, melainkan pengakuan bahwa kita sepenuhnya bergantung kepada Tuhan.
Keempat, DOA ADALAH BUKTI “Kerendahan Hati”(Luk 18:13)
Lukas 18:13 menggambarkan doa pemungut cukai yang sederhana dan penuh pertobatan. Tuhan membenarkan dia karena kerendahan hatinya. 1 Tesalonika 5:17 mendorong kita untuk tetap berdoa. Ibrani 11:6 menegaskan bahwa tanpa iman tidak mungkin kita berkenan kepada Allah. Kita melihat teladan dalam kehidupan Daniel yang tetap setia berdoa meskipun menghadapi ancaman. Kita juga melihat Daud yang dengan jujur mencurahkan pertobatannya dalam Mazmur 51. Teolog Jerman Dietrich Bonhoeffer dalam The Cost of Discipleship menekankan bahwa doa sejati akan menghasilkan ketaatan. Pengkhotbah besar Charles Spurgeon menyebut doa sebagai urat nadi iman.
Kedewasaan doa terlihat dalam kerendahan hati, iman yang teguh, dan ketekunan yang tidak tergantung pada situasi.
Kelima, Puncak Kedewasaan: Penyerahan kepada Kehendak Allah(Luk 22:42).
Teladan tertinggi adalah Tuhan kita, Yesus Kristus. Dalam Lukas 22:42, Ia berdoa, “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi. Inilah puncak kedewasaan doa: penyerahan total kepada kehendak Allah. Teolog Swiss Karl Barth menyatakan bahwa doa adalah tindakan paling serius manusia karena di dalamnya ia berdiri di hadapan Allah yang kudus.Pendeta dan penulis Timothy Keller dalam Prayer: Experiencing Awe and Intimacy with God menulis bahwa doa sejati lebih dahulu mengubah hati kita sebelum mengubah keadaan kita.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, doa bukanlah alat untuk memaksa Tuhan mengikuti kehendak kita, melainkan sarana agar hati kita dibentuk sesuai kehendak-Nya.
Penutup
Sebagai Tim penggembalaan, kerinduan kami adalah agar jemaat yang kita kasihi ini dikenal bukan hanya karena aktivitas dan programnya, tetapi karena kedalaman kehidupan doanya.
Marilah kita membangun kembali mezbah doa pribadi di rumah masing-masing. Marilah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang tulus, rendah hati, penuh iman, tekun, dan berserah.
Bapa yang melihat dalam tersembunyi tidak pernah lalai memperhatikan doa anak-anak-Nya.
Kiranya Roh Kudus menolong kita bertumbuh menjadi jemaat yang dewasa dalam memahami arti berdoa.
Tuhan memberkati setiap keluarga dan pelayanan kita. Dalam kasih Kristus
Oleh : Pdt Paulus Timang, M.Th