Dewasa Dalam Meletakkan Pondasi Keluarga

“Dewasa Dalam Meletakkan Pondasi Keluarga”
Mazmur 127:1-2 (TB)
Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah — sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.
Setiap orang tentu menginginkan keluarga yang kuat, harmonis, dan diberkati Tuhan. Karena itu banyak orang berusaha membangun masa depan keluarga melalui pendidikan yang baik, pekerjaan yang mapan, usaha yang berkembang, dan kondisi ekonomi yang stabil. Semua itu penting, tetapi Mazmur 127:1-2 mengingatkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih mendasar daripada semua itu, yaitu pondasi keluarga.
Rumah yang megah dapat dibangun dalam beberapa tahun, tetapi keluarga yang kokoh dibangun sepanjang hidup. Banyak keluarga terlihat berhasil dari luar, namun rapuh di dalam. Ada rumah yang penuh fasilitas tetapi miskin kasih. Ada keluarga yang kaya secara materi tetapi miskin secara rohani.
Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukanlah seberapa besar rumah yang kita bangun, melainkan di ATAS DASAR APA KITA MEMBANGUNNYA.
Pemazmur berkata, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.” Kalimat ini menunjukkan bahwa kedewasaan seseorang tidak hanya terlihat dari kemampuannya mencari nafkah atau mengurus keluarga, TETAPI dari kesadarannya bahwa Tuhan harus menjadi dasar dan pusat dari seluruh kehidupan keluarganya.
Pertama, kedewasaan dalam meletakkan pondasi keluarga dimulai ketika seseorang menyadari bahwa Tuhan adalah ‘arsitek’ utama keluarga. Banyak orang melibatkan Tuhan hanya ketika masalah datang, tetapi orang yang dewasa rohani menjadikan Tuhan sebagai pusat sejak awal. Mereka tidak hanya meminta Tuhan memberkati rencana mereka, tetapi terlebih dahulu mencari kehendak Tuhan dalam setiap keputusan keluarga. Mereka memahami bahwa keberhasilan keluarga bukan semata-mata hasil kerja keras manusia, melainkan karena penyertaan Tuhan.
Mazmur 127 juga mengajarkan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Sebesar apa pun usaha yang dilakukan, ada banyak hal yang berada di luar kendali manusia. Orang tua dapat mendidik anak dengan sebaik mungkin, tetapi Tuhanlah yang bekerja membentuk hati mereka. Suami dan istri dapat berusaha menjaga rumah tangga, tetapi Tuhanlah yang memberikan kekuatan untuk tetap setia dan saling mengasihi. Kedewasaan rohani terlihat ketika seseorang berhenti mengandalkan kekuatannya sendiri dan belajar bergantung kepada Tuhan.
Kedua, pondasi keluarga yang dewasa tidak hanya dibangun dengan materi, tetapi juga dengan nilai-nilai rohani. Di zaman sekarang, banyak keluarga menghabiskan hampir seluruh tenaga untuk mengejar kebutuhan hidup, tetapi lupa membangun kehidupan rohani di rumah. Akibatnya, rumah bertambah besar tetapi hubungan semakin jauh, pendapatan meningkat tetapi damai sejahtera berkurang. Mazmur 127 mengingatkan bahwa keluarga tidak dapat bertahan hanya dengan roti, tetapi juga membutuhkan firman Tuhan, doa, kasih, dan keteladanan iman.
Ketiga, keluarga yang dewasa belajar mempercayai pemeliharaan Tuhan. Ayat 2 menggambarkan orang yang bangun pagi dan tidur larut malam karena terus-menerus khawatir tentang kehidupannya. Tuhan tidak melarang kerja keras, tetapi Tuhan menegur hati yang dipenuhi kecemasan. Orang yang dewasa dalam iman bekerja dengan sungguh-sungguh, namun tetap memiliki damai sejahtera karena percaya bahwa Tuhan memegang masa depan mereka. Mereka tahu bahwa ada saatnya bekerja dan ada saatnya menyerahkan hasilnya ke dalam tangan Tuhan.
Keempat, pondasi keluarga yang kuat selalu memikirkan generasi berikutnya. Keluarga bukan hanya tentang hari ini, tetapi juga tentang apa yang akan diwariskan kepada anak-anak. Warisan terbesar bukanlah tanah, rumah, atau tabungan, melainkan iman yang hidup. Anak-anak belajar mengenal Tuhan bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang mereka lihat setiap hari dalam kehidupan orang tua mereka. Karena itu, keluarga yang dewasa akan berusaha meninggalkan jejak iman yang dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, keluarga yang diberkati bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan keluarga yang tetap berdiri karena dibangun di atas dasar yang benar. Ketika Tuhan menjadi pondasi, badai kehidupan mungkin datang, tetapi keluarga itu tidak akan mudah runtuh. Sebab apa yang dibangun bersama Tuhan akan memiliki kekuatan untuk bertahan, bertumbuh, dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Pertanyaan untuk kita renungkan, apakah selama ini saya lebih sibuk membangun kehidupan materi daripada membangun kehidupan rohani keluarga?
Ketika mengambil keputusan penting, apakah saya sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan atau hanya meminta Tuhan memberkati rencana saya?
Apa yang menjadi pondasi utama keluarga saya saat ini?Tuhan, Uang, Karier, Pendidikan, Kenyamanan?
“Rumah yang dibangun dengan tangan manusia bisa berdiri megah, tetapi rumah yang dibangun bersama Tuhan akan bertahan menghadapi badai kehidupan.” (bnd. Matius 7:24-25).

Oleh : Ev. Geo Frayanus, M.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *