BERTOLAK KE TEMPAT YANG DALAM

SURAT GEMBALA

Minggu, 07 AGUSTUS 2022

 

BERTOLAK KE TEMPAT YANG DALAM

LUKAS 5:4B

 

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.

 

Shalom, Nast Firman Tuhan di atas tidak berdiri sendiri melainkan berkaitan dengan konteks keseluruhan yang dimulai dari ayat 1-11. Inti dari konteks ini ialah Panggilan pelayanan Petrus dari Penjala ikan menjadi Penjala manusia.  Tema bulan misi nasional tahun ini tidaklah baru dikumandangkan pada era ini melainkan telah dituangkan oleh Pendiri Gereja Kemah Injil dunia dalam satu goresan lagu yang berjudul “Launch Out”(Bertolak ketempat yang dalam) pada tahun 1891. lagu”Launch Out” (259) menantang orang percaya untuk mengalami penyediaan supernatural dari Tuhan jika mereka mau melangkah dalam nama-Nya. Namun, banyak jemaat akan kesulitan menyanyikan kata-kata dalam ukuran tiga: “tak terbatas dan tak terukur” karena irama musik tidak secara logis mengikuti irama alami kata-kata. Akibatnya, instrumentalis akan memainkan sesuatu selain yang dinyanyikan oleh jemaat, dan jika tidak dilatih, jemaat akan tersandung. Bahkan masalah kecil seperti itu dapat menyebabkan jemaat dengan cepat menilai sebuah himne yang “tidak dapat dinyanyikan”. Selain menghadapi tantangan dalam menyanyikan lagu tersebut, Faktanya; Hidup kita seringkali berhenti pada tempat yang dangkal, dipinggir-pinggir saja, karena itu merupakan tempat yang nyaman dan relatif tidak beresiko apa-apa. Kita tidak mau mengambil langkah maju karena ragu dan khawatir, takut akan resiko yang mungkin dihadapi, dan berat untuk melepaskan Kenyaman kita. Kita memilih hanya sebagai penonton setia dan bukan sebagai pelaku. Kita hanya mau dilayani, tanpa mau melayani. Dalam hidup dan pekerjaan pun, kita takut salah langkah, meskipun kita seringkali sadar bahwa Tuhan telah menyuruh kita untuk melakukan sesuatu, untuk melangkah maju, untuk masuk lebih dalam lagi. Padahal lihatlah, di tempat yang dalam itu ada rencana besar Tuhan untuk masing-masing kita. Memang, untuk masuk ke tempat yang lebih dalam lagi ada banyak resiko menghadang. Mungkin ada badai, angin kencang di tengah laut, mungkin ada ombak tinggi menggulung, ada resiko kapal karam, ada resiko untuk terombang ambing sendirian di tengah lautan luas, namun ingatlah sekali lagi bahwa Tuhan sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan kita. “Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. ”(Ibrani 13:5b). Paling tidak ada 3 syarat untuk bertolak ketempat yang dalam menurut Lukas 5:1-11:

Pertama, Mengizinkan Tuhan Yesus masuk dalam kehidupan (3a). Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, Dalam Lukas 5 “petrus yang awalnya dia mengemudi perahu itu tidak dapat apa-apa, dan akhirnya Yesus mengatakan “tolaklah perahu ketempat yang dalam” berarti Juru mudinya adalah Kristus. Petrus perlu mengubah rasionya dengan memakai rasio Kristus dan ini bisa terjadi melalui iman.

Kedua, Menerima dan mendengar Pengajaran Tuhan Yesus(3b-4). dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan. “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Firman itu bermanfaat untuk menasihati, menegor kesalahan, memperbaiki kesalahan dan memperlengkapi orang percaya sempurna dalam segala perbuatan baik. Keberimanan kita bukan hanya pada pengakuan terhadap Yesus Kristus sebagai Juruselamat, tetapi kuasa Firman yang telah mempengaruhi hidup orang percaya memiliki buah-buah terbaik dalam hidupnya(II Tim 3:16, Gal 5:22-23)

Ketiga, Melakukan Perkataan Tuhan Yesus (5). Simon menjawab: “Guru,   telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa,   tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga. Yesus bukan seorang nelayan tetapi Dia seorang tukang kayu. Simon Petrus yang ahli atau seorang pelaut mau menebarkan jalanya juga ketika Yesus menyuruhnya. Ini adalah satu ketaatan dan kerendahan hati.  Jadi kalau mau taat kita perlu humility atau kerendahan hati, kalau tidak ada kerendahan hati tidak mungkin ketaatan itu terjadi

Selamat hari Minggu, Selamat beribadah, Tuhan Yesus memberkati…..!!!

 

 

Oleh : Pdt. Paulus Timang, M.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *