KESAKSIAN SADRAKH, MESAKH DAN ABEDNEGO DI BABEL

Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “ Tidak ada gunanya kami member jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dalam tanganmu, ya raja; TETAPI SEANDAINYA TIDAK, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan TIDAK AKAN menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Daniel 3 : 16-18.

Daniel, Misael, Hanaya dan Azarya adalah ke-empat anak muda Ibrani yang dibawa sebagai tawanan ke Babel setelah Nebudnezar mengalahkan bangsa Israel dan menghancurkan kota Yerusalem. Ke-empat pemuda ini dikenal karena keputusan mereka untuk TIDAK MENAJISKAN DIRI dengan santapan dan anggur yang biasa diminum raja (Daniel 1 : 8). Untuk tujuan menyesuaikan mereka dengan peradaban Babel, pemimpin pegawai istana itu memberikan nama Babel kepada ke-empat orang muda itu;  Daniel ( Allah adalah hakimku) dinamai Beltsazar(Bel melindungi hidupnya), Hanaya (Tuhan menunjukkan kasih Karunia) dinamai Sadrakh (Hamba Aku; yaitu dewa bulan), Misael (Siapa yang setara dengan Allah) dinamainya Mesakh (Bayangan Pangeran), dan Azarya (Tuhan Menolong) dinamai Abednego ( Hamba Nego; yaitu dewa hikmat atau bintang Fajar). Meskipun nama mereka berikut arti nama mereka diubah, akan tetapi ke-empat pemuda Ibrani ini tetap memelihara komitmen dan iman mereka kepada Allah Israel. Hal ini mengingatkan kita bahwa “LINGKUNGAN” tidaklah sepenuhnya dapat menentukan komitmen rohani kita.

Dalam kehidupan iman,  mereka menghadapi tantangan yang secara manusia mengharuskan mereka untuk menyerah. Posisi mereka sebagai orang tawanan dan juga perintah yang dikeluarkan langsung oleh raja Nebukadnezar yang diikuti oleh seluruh pejabat tinggi di Babel, membuat mereka seharusnya “IKUT ARUS” supaya terpelihara hidup dan karir mereka. Tetapi Alkitab mencatat bahwa mereka memutuskan untuk “MELANGGAR PERINTAH RAJA” untuk mentaati PERINTAH TUHAN. Hal itu menimbulkan MARAH dan GERAM raja Nebukadnezar. Ia memanggil mereka dan MEMBERIKAN KESEMPATAN UNTUK MENYELAMATKAN DIRI dengan sujud menyembah patung emas buatan raja itu. Suatu tindakan yang TIDAK SULIT, yang kalau mereka lakukan PASTI akan menimbulkan KESULITAN secara rohani. Ancaman ketidak-taat-an mereka terhadap raja adalah kematian didalam dapur api yang menyala-nyala. Tetapi dalam Daniel 3 : 16-18, dengan yakin mereka mendeklarasikan iman mereka, apapun resiko yang harus mereka hadapi. Mereka tidak meminta Tuhan melepaskan mereka dari situasi itu, bahkan sekiranya Tuhan tidak melepaskan mereka sekalipun, mereka tetap menyembah kepada Tuhan. Mereka menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan yang mereka sembah. Mereka siap bahkan kalau harus mati karena iman mereka. Tuhan tidak membatalkan hukuman itu, Tuhan mengijinkan mereka DICAMPAKAN kedalam perapian itu. Hal itu membuat Raja Nebukadnezar tidak hanya MENDENGAR tetapi MELIHAT kuasa Tuhan yang menyelamatkan mereka. Raja Nebukadnezar mengakui Tuhan Allah Isreal setelah MELIHAT kesaksian iman ke-tiga pemuda ini. Masalah Kekristenan hari ini adalah bahwa terlalu banyak orang Kristen yang “TAHU DAN PERCAYA” kepada Tuhan dan Firman Tuhan, tetapi tidak sanggup “MEMPERCAYAKAN DIRI KEPADA TUHAN DAN KEHENDAK TUHAN.” Orang mungkin banyak mendengar hal-hal baik dan benar dari MULUT orang Kristen, tetapi apakah mereka melihat itu dari KELAKUAN orang Kristen. Nebukadnezar mengakui Tuhan bukan karena apa yang dia DENGAR tentang Tuhan, tetapi karena apa yang dia LIHAT.

Apakah yang orang lain dengar dari mulut kita juga mereka lihat dari kelakuan kita. Siapkah kita mempertaruhkan KARIR, MASA DEPAN dan HIDUP kita karena iman kita kepada Tuhan, atau kita memilih untuk SUJUD SEJENAK DIHADAPAN PATUNG EMAS NEBUKADNEZAR untuk menyelamatkan NYAWA dan KARIR kita.

Oleh : Pdt. Rustam Miling, S.Th

Leave a Comment

Your email address will not be published.